Tentang Perjalanan


Eniwei, seperti postingan-postingan sebelumnya ini udah pernah aku post di note fb. Pergi ke Bromo udah bulan Mei lalu, baru ditulis bulan Juli ngoook -_____________-"

Perjalanan agak nekat dan mendadak ini diputuskan setelah melihat sederetan kalender liburan.Ini memang mimpi yang sudah saya tuliskan di buku harian 1 Januari 2012 lalu. Just make it happen dear! Bersama empat orang partner in crime saya Kak Andri, Kak Hentri, Fitri, dan Ady.

Beberapa hari sebelumnya saya dan Fitri sudah browsing, tanya kesana kemari, menghitung budget, mengecek tiket kereta ekonomi, dan berkumpul bersama untuk saling mengenal satu sama lain. Rencana awal untuk naik kereta pada keberangkatan gagal karena setelah sehari kemudian Fitri dan Kak Andri kembali ke stasiun, tiket kereta Jogja-Probolinggo terjual habis, sehingga kami membeli tiket hanya untuk pulang dari Probolinggo-Jogja saja dengan harga 30 ribu rupiah, dan pasti dapat tempat duduk.

Kami  memutuskan untuk berangkat pada hari Rabu malam dengan menggunakan bus Mira jurusan Jogja-Surabaya dengan tarif  34 ribu rupiah setelah dipotong dengan kartu langganan yang bisa diminta pada kondektur sebelum masuk dalam bus. Berangkat pukul sebelas malam dan sampai di Surabaya sekitar jam delapan pagi. Kami lanjutkan perjalanan kembali menuju Probolinggo dengan bus jurusan Surabaya- Probolinggo-Jember-Banyuwangi dengan tarif 12 ribu rupiah. Alamak, sudah busnya tidak berAC, penuh sesak, dan tiba-tiba entah bocor atau kenapa sehingga bus harus berhenti dan diperbaiki. Sesaat kemudian, bus melaju kembali dengan kecepatan kencang dan muatan yang sangat penuh. Bahkan di tengah-tengahnya, sudah penuh dengan orang-orang yang berdiri. Perjalanan dilanjutkan kembali. Sesekali menikmati pemandangan dan selebihnya hanya tiduran. Dan untuk kedua kalinya, ban belakang bus malah meletus dengan kencang. Saya pun terbangun, kaget bukan main, tetapi setelahnya tertawa juga karena ban yang meletus itu tepat di bawah bangku yang diduduki oleh Kak Andri dan Kak Hentri haha :p. Bus yang meletus tersebut diganti dengan bus lain, alhasil Kak Andri, Ady dan Kak Hentri yang semula duduk kini harus rela berdiri karena tidak kebagian tempat duduk karena mengalah demi kami yang cewek-cewek :) *uuu 

Pisang Goreng

Sampai di terminal Probolinggo, kami beristirahat sejenak dan makan pagi. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan mobil jenis ELF jurusan Probolinggo-Bromo dengan tarif 25 ribu per orang. Kami mencari penginapan di Homestay Tengger Permai yang berlokasi di daerah Cemoro Lawang. Setelah beristirahat sejenak, kami berjalan-jalan di sekitar area pegunungan, tergoda dengan keindahan pemandangan dua gunung, Bromo dan Batok. Niatnya hanya iseng, tetapi akhirnya sampai hampir mendekati Gunung Batok juga. Pada wilayah yang dekat dengan gunung dan pura tersebut terdapat beberapa penjual seperti kopi, pop mie, dan yang masih begitu melekat dan tidak bisa diulang kenikmatannya adalah makan pisang goreng !
“ini pisang goreng paling enak yang pernah aku makan”
Entah karena begitu laparnya saya setelah menuruni dan berjalan selama satu jam atau memang rasanya yang enak, saya juga kurang tahu. Yang pasti, sepertinya kenangan makanan di Bromo hanyalah tentang pisang goreng!

Suya

Dalam sepertiga malam ketika kami hendak berangkat untuk melihat sunrise, terdengar suara laki-laki. Beliau adalah sopir jeep yang sudah kita buat kesepakatan harga dan tujuan.
“maaf, saya mau mencari Pak Suya disini”
Saya dan Kak Andri nyengir dan saling bertatapan, lalu Kak Andri menjawab
“Pak Suya ? Zia kali pak ?”
“oh iya Zia mungkin”
Lalu kami tertawa bersama, ah sial sekali saya , sudah namanya diganti Suya, ditambahin Pak lagi. Dudududh.. sib.. nasib...

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, kami berangkat menuju Penanjakan satu, tempat untuk melihatsunrise. Perjalanan ini hanya bisa dilalui dengan berkendaraan, motor ataupun jeep yang banyak dapat disewa dengan harga yang bisa dinegosiasi sesuai dengan tujuan misalnya hanya ke Penanjakan saja atau juga ke kawah, ke savana, dan bukit telletubies. Kami menyewa dengan tujuan Penanjakan satu, Savana, Bukit Telletubies, dan Kawah Bromo dengan tarif 550 ribu rupiah. 

Ah sayang sekali kami tidak dapat mengabadikan kawah Bromo karena sejak awal kami hanya mengandalkan satu kamera punya Fitri dan baterai habis sebelum sampai puncak. Untuk melihat sampai ke atas kawah, bisa dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah jalan kaki diatas padang pasir, dan yang kedua adalah menaiki kuda yang harganya sekitar 30 ribu hingga 50 ribu rupiah. Tetapi naik kuda pun hanya diturunkan sampai di tangga menuju kawah. Inilah yang membuat kami begitu risih ketika berjalan, bau kotoran kuda, berjalan bersama kuda yang terkadang sedikit mengganggu.

Tante Tolly

Bukan promosi, karena saya juga tidak pernah diberi makan gratis. Rumah makan ini adalah yang disarankan oleh Pak Gitar, pemilik salah satu penginapan dan persewaan Jeep disana. Saya sendiri memilih makan disana karena sepertinya paling murah meskipun terhitung sangat mahal jika dibandingkan dengan di Jogja. Entah para partner in crime saya itu kenapa, mungkin punya alasan lain, karena suka dengan namanya yang unik, Tolly, atau suka melihat orangnya dan mendengar suaranya hahahahhahahah :p
Di warung tante Tolly inilah kami banyak bercerita, tentang masa kecil hingga bicara soal kesehatan, pendidikan, curhat seputar perkuliahan, dan masih banyaaak sekali yang kita diskusikan bersama. 

AbcAbc

Saya tertawa geli ketika menulis tentang ini, saya masih ingat bagaimana raut muka tiga partner in crime saya ketika joget-joget . Kejadian bermula ketika kami selo banget bermain A-B-C hingga hampir tengah malam, dan yang kalah akan diberi hukuman. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi curhat *eaaa eaaaa

Mantu Baru

Perjalanan pulang adalah hari Sabtu pukul sebelas siang. Karena waktu perjalanan yang begitu panjang kami menghabiskan waktu berulang-ulang. Ngobrol, tidur, makan. Siklusnya terus berputar hingga tujuan yaitu Stasiun Lempuyangan.
Yang begitu menarik sekaligus agak menjengkelkan adalah banyaknya penjual di dalam kereta, saya pikir kereta tersebut lebih cocok untuk menjadi pasar ketimbang kendaraan. Barang yang dijajakan pun beraneka ragam mulai dari makanan hingga alat pijat, buku hingga kaca mata dan masih begitu banyak barang yang namanya aneh-aneh sehingga saya sempat menertawakan Kak Hentri yang ikut-ikutan beli Bipang karena penasaran padahal sewaktu dia buka

“eeeyaaaaaaaaaaaalaaaaah ini toh tak pikir opo”.

Seringkali pedagang juga menyebalkan, membangunkan saya ketika sedang menikmati tidur untuk menawarkan barang dagangannya, hingga ada yang sok tahu tapi lucu

“buk, buk, beli kaca matanya dong buk, jangan mau kalah sama menantunya itu”

Saya, Fitri dan Kak Hentri sontak tertawa terbahak-bahak.
Jadi ceritanya, dua kursi dalam kereta yang berhadapan itu bisa diisi untuk enam orang. Karena kami hanya berlima, secara otomatis satu kursi akan ditempati oleh orang lain. Ketika kami masuk, satu kursi tersebut telah diisi oleh ibu-ibu dari Banyuwangi dengan tujuan Jogja. Kak Hentri menggunakan kaca mata hitam, sehingga Kak Hentri dikira menantunya ibu tersebut sedangkan anaknya adalah Fitri hahahahahha.

Itulah sebuah cerita perjalanan singkat, ini hanya mewakili sebagian kecil dari banyak hal yang saya rasakan, yang saya temukan, dan akan selalu saya rindukan...Menikmati keindahan Bromo, Tengger, disuguhi dengan pemandangan yang sangat menarik dan mempesona.. Aduhai indahnya... 

Live is not measured by every breaths that you take, but every moments and places that take your breaths away... (Anonymous)

Komentar

  1. ziaa itu yang dua orang cowo baru kenal atau emang uda temen? ko seru kaya komunitas backpacker ;D

    BalasHapus
  2. baru kenal cyiiilll heheh satunya tetangga kontrakannya Fitri namanya ka Andri, satunya Ka Hentri itu temannya Ka Andri, yang Ady anak PD 2010 hehe. btw kamu kenapa gak jadi ke malay ciill

    BalasHapus
  3. waa ih seru banget, uda ga sanggup zia sama prosesnya sih. beraaaat hahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer