Nanti, Besok, Hangus

Never put off till tomorrow what you can do today

Saya masih ingat bagaimana sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, menerjemahkan kata demi kata tersebut, yang membuat saya selalu penasaran, kenapa selalu ada di bagian paling bawah buku tulis yang paling laris di pasaran (ini menurut saya). Hmmm… saya menerka-nerka bahwa kalimat itu memiliki arti “ belajarlah yang rajin” haahaha…. Maklum lah, bahasa inggris waktu saya masih SD  dulu benar-benar menjadi bahasa “asing” yang memang masih “asing” . Tidak seperti sekarang ini, murid di TK saja sudah pandai, yah walau sekadar menghafal huruf, angka dan warna dalam bahasa Inggris, tapi menurut saya itu sudah luar biasa dibandingkan zaman saya dulu.

Lama kelamaan, saya lupakan kata-kata itu sampai saya memperhatikannya lagi di bangku SMA ketika kalimat tersebut menjadi slogan utama kelas X-4 yang letaknya di depan kelas yang kami tempati. Aha ! benar sekali yah! Jangan tunda apapun yang dapat kamu lakukan sekarang ! yaaa… kata kata mutiara tetaplah akan jadi kata-kata jika tidak diterapkan. Seperti saya ini, sukanya menunda-nunda. “ Nanti sajalah, besok sajalah, besok (nya lagi) sajalah , masih ada waktu”. Tugas besok dikumpul, hari ini baru mengerjakan. Besok ada ulangan,besok ada ujian, hari ini belajar semalaman. Ah, itu-itu saja yang sering sekali saya lakukan. Apalagi di bangku perkuliahan, tak ada yang memarahi, atau sekadar menegur saya mau mengerjakan tugas atau tidak, mau belajar atau tidak. Intinya harus dapat berpikir dan bertindak lebih dewasa, melihat dan melakukan segala sesuatu bukan karena sebuah paksaan melainkan kesadaran.

Mungkin yang ada dalam pikiran saya “ semakin mepet semakin hasilnya bagus, ibarat pegas yang semakin di tekan ke bawah, akan bisa naik setinggi-tingginya” padahal, prinsip itu tak selalu bisa saya terapkan, apalagi saya pukul rata dalam semua situasi dan kondisi. Lagi pula, jika masih memiliki waktu luang, saya sendiri juga senang karena masih bisa mengoreksi tugas-tugas yang akan dikumpulkan. Entah itu ada kesalahan dalam penulisan, kurang bisa dimengerti,atau apa saja yang pada intinya berusaha untuk menyempurnakan dan memberikan hasil yang terbaik. Saya masih ingat betul ketika saya terkagum-kagum sama teman saya yang laporannya selesai sebelum waktu pengumpulan, sambil bercanda (dan kami memang tak pernah serius ) saya bilang“cieeehhh… rajinnyaaa” “iya lah, biar bisa ongkang-ongkang kaki sambil mempercantik laporannya”. Hasil yang dikerjakan dengan perasaan tergesa-gesa dan buru-buru, pasti berbeda dengan yang sudah diteliti, disusun rapi, serta dikoreksi secara berulang-ulang. Dan teman saya itu benar, nilai nilai laporannya sungguh memuaskan, jauh jika dibandingkan dengan saya.

Memang benar semuanya berawal dari sesuatu yang sudah “dibiasakan”. Semakin terbiasa saya menunda, semakin itu menjadi karakter buat saya, dan semakin menjadi bumerang buat kehidupan saya nantinya. Karena begitu banyak hal yang lebih bermanfaat  saya lewatkan dari kebiasaan menunda, begitu banyak waktu dan tenaga yang lebih tersita karena menunda. Mengapa bisa begitu ? yaaa… karena ada hal-hal lain yang terkadang lebih berharga dan berguna yang bisa saya lakukan, seperti undangan diskusi, menjenguk teman yang sakit, atau hal-hal lain yang dapat menambah wawasan saya, tetapi saya tak dapat menghadiri karena harus mengerjakan tugas dan pekerjaan yang semestinya saya selesaikan sejak kemarin-kemarin. Entah karena terlena bermain kesana kemari, tidur-tiduran sambil mendengarkan music, chatting, dan ber-sms ria, main game, atau apa saja yang membuat saya lupa kalau masih memiliki setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Ah, begitu banyak yang saya sesali dari menunda semua yang mestinya saya lakukan. Jangan sampai hari ini juga menjadi penyesalan buat saya esok hari.

Yogyakarta, 19 Juli 2011
Fauziah Oktavira

Komentar

Postingan Populer