Mannheim dan Kerja Sosial di Jerman Bagian 1

Mannheim. Banyak orang yang bilang kalau kota ini bukan termasuk salah satu kota di Jerman yang wajib dikunjungi layaknya Heidelberg, Hamburg, Berlin, atau kota-kota besar lainnya. Mannheim dikenal sebagai kota pekerja, dengan berbagai pabrik-pabrik di sekitarnya seperti Daimler, IBM, Roche dan sebagainya. Universitas terkenalnya adalah Universitas Mannheim dengan bidang studi ekonominya yang sangat banyak diminati. Meski bagi kebanyakan orang kota ini tidak terlalu menarik, bagiku kota ini mempunyai kenangan tersendiri.
Pertama kali pindahan ke Mannheim rasanya sangat menyenangkan, kenapa? karena di hari itu, aku menjadi manusia dan pribadi yang "bebas". Punya tempat tinggal sendiri di sebuah apartemen lantai 5 yang pemandangannya sangat mempesona, apalagi saat matahari tenggelam, dekat dengan  supermarket, dan aku bisa bebas mengatur berdasarkan kemuanku sendiri bagaimana aku menyusun ruangan dan menjaganya untuk selalu bersih dan rapi. 
Masa pergantian dari Au Pair dengan kebebasan yang tidak sepenuhnya ke kerja sosial membuatku bisa menghargai apa itu kebebasan. Aku menjadi pribadi yang gampang berbahagia, ceria, dan merasakan seolah-olah kehidupanku sempurna. Tidak kekurangan apapun. Pernah aku mendengar sebuah pepatah yang mengatakan, wenn du Essen im Kühlschrank, ein Dach über den Kopf, und ein Bett hast, dann bist du reicher als 75% der Weltbevölkerung. Jika kamu punya makanan dalam kulkas, atap yang melindungi kepalamu, dan kasur untukmu beristirahat, kamu lebih kaya dari 75% manusia di dunia.

ikon kota Mannheim, disebut sebagai Wasserturm

pemandangan dari Jendela saat musim gugur tiba


agenda tiap malam saat musim gugur, menulis diary ditemani teh hangat, merasakan kesunyian dan menikmati kesendirian

daun daun yang berguguran di depan rumah

hujan selalu mengingatkan pada kampung halaman...

when the sun goes down...

makan malam yang kadang tak harus sendirian

klein aber fein 


depan apartemen saat musim gugur

gerimis

sunny day, di depan apartemen

kamar mandi XD



Masa pergulatan terjadi saat seminggu awal bekerja. Aku merasa ragu, bingung, dan berpikir berulang-ulang, apakah keputusan yang benar tanda tangan kontrak setahun untuk menjadi pekerja sosial. Ditambah lagi tekanan dari orang-orang yang di Indonesia yang selalu bertanya "lah, tak kira kamu itu kuliah di sana". Wajar mereka bertanya seperti itu, karena mereka tidak tahu. Bukan salah mereka juga. Kurangnya informasi lah yang menyebabkan mereka selalu berpikir kalau orang ke luar negeri apalagi ke Eropa itu "pantesnya" kuliah. Kalaupun aku mengaku bekerja, mereka tidak berhenti menghadang dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa membuat mereka kecewa. Wah hebat banget bisa kerja di sana, pasti gajinya banyak. Kerjanya ngapain aja? 
Begini pekerjaanku selama satu setengah tahun menjadi pekerja sosial di Jerman :
1. Kerja berdasarkan sistem shift : pagi, siang, malam.

  • Pagi : datang paling lambat pukul 06:30 pagi, ngopi-ngopi, melakukan übergabe atau penyampaian informasi bersama apa saja yang terjadi selama shift sebelumnya. Lalu membangunkan orang-orang yang tinggal dalam rumah tempat tinggal orang-orang berkebutuhan khusus itu. Memandikan mereka, memasang popok bagi yang membutuhkan, memakaikan pakaian, dll dan mendudukkan di kursi roda, membawa dari kamar ke ruang tengah untuk sarapan bersama. Mereka kemudian akan dijemput oleh bus-bus yang mengantar mereka ke Werkstatt atau tempat mereka bekerja. Setelah mereka semua meninggalkan kami, kami melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah. Memasukkan pakaian-pakaian ke dalam lemari yang telah dicuci oleh bagian pencucian, berbelanja, dan sebagainya. Waktu bekerja berakhir hingga pukul 14.00
  • Siang : datang pukul 13:30, bertukar informasi dan mendengar hal-hal penting yang harus diperhatikan, menjemput mereka di depan rumah saat mereka dibawa kembali oleh bus-bus yang mengantar jemput mereka, menyiapkan coffee break , menawarkan aktivitas bersama mereka (jalan-jalan sekeliling tempat tinggal jika cuaca cerah, mewarnai, bernyanyi dan bermain musik bersama, menonton film, dan sebagainya). Pukul 17 menyiapkan makan malam bersama kolega untuk 10 orang, makan bersama, membawa mereka tidur, merapikan ruangan, dan pekerjaan berakhir pukul 21:30 malam. 
  • Malam : hanya 6 minggu sekali, datang pukul 17 dan bekerja hingga pukul 9. Diawali dari hari Minggu hingga Jumat pagi. Tidur di tempat kerja dengan membawa telefon dan siap siaga apabila kolega menelefon dan meminta bantuan. Selama satu setengah tahun bekerja, hanya satu kali aku ditelefon, itupun hanya karena kolega butuh bantuan mengganti bed cover salah satu penghuni. 
di tempat kerja :)


Ada sisi positif dan negatif jika harus bekerja berdasarkan shift. Kalau kebagian shift pagi bisa pulang cepet tapi bangun pagi-pagi, kalau winter jalan kaki ke tempat kerja masih gelap dan dingin setengah mati. Lain halnya dengan waktu siang, bisa bangun siang, makan siang santai di rumah, tapi pulang larut malam, dan kadang besoknya harus keluar rumah pukul enam pagi. Pekerjaan tersebut juga menuntut kita untuk bekerja pada akhir pekan, jadi aku hanya punya dua kali libur akhin pekan dalam satu bulan (Sabtu dan Minggu). 

Komentar

Postingan Populer