Au Pair di Jerman

Empat tahun lalu sebelum kuliah di Hamburg dan kerja sosial di Mannheim, kegiatan pertamaku di Jerman adalah sebagai Au-Pair Mädchen. Au Pair berasal dari bahasa Perancis yang artinya adalah timbal balik atau saling membantu. Seperti artinya, aku tinggal bersama keluarga Jerman dan mendapat hak berupa uang saku tiap bulannya, kursus, serta tempat tinggal dan makanan dari mereka. Sebagai imbalannya, aku menjaga anak-anak mereka dan menjadi bagian dari keluarga tersebut. Enak atau tidaknya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Buatku, sebagai Au Pair ketika pertama kali di Jerman adalah gar nicht so schlecht, untuk mengenal budayanya, untuk adaptasi pertama tinggal di Jerman. Tanpa Au Pair, mungkin aku bukan pribadi seperti aku sekarang. Aku jauh lebih terbuka untuk menerima segala seuatu yang baru di sini dan menjadi sangat cepat beradaptasi karena pengalaman Au Pair sangat membantuku untuk survive di sini.
Pekerjaanku waktu itu antara lain menyiapkan sarapan dan dan sarapan bersama mereka, mengantar anak-anak ke sekolah. Sepulang mengantar anak-anak sekolah, aku pergi ke kursus bahasa Jerman selama dua kali seminggunya, sisanya aku punya free time hingga sore hari. Sore hari aku menjemput anak-anak dan mengantar mereka ke berbagai aktivitas misalnya pramuka, les ini itu. Jika tidak, aku tinggal di rumah dan bermain bersama mereka atau mengerjakan pr dari sekolah. Malam hari, kami makan bersama, karena aku senang sekali memasak, aku sering menyiapkan makanan untuk mereka. Jika teman-teman anak-anak datang, aku senang sekali membuat pancake buat mereka. Tentunya mereka kegirangan dan bahagia. Ketika weekend, hari Sabtu biasanya kami bersih-bersih rumah bersama. Sore hari hingga Senin pagi aku lebih sering menghabiskan waktu di Frankfurt. Jika tak ada kegiatan, biasanya aku juga ikut mereka Ausflug, semacam one-day-trip ke hutan, ke taman atau acara-acara tertentu.
Tentu saja ada banyak hal yang juga tidak enak, misalnya tinggal di rumah orang tidak selalu bebas, tak bisa membawa teman kapanpun aku mau, meskipun sebenarnya mereka tidak ada masalah jika aku membawa teman. Inilah pelajaran yang paling berharga selama aku Au Pair: komunikasi. Sebagai orang Indonesia, dulu aku selalu merasa pekewuh dan sungkan untuk mengatakan sesuatu. Padahal, banyak masalah yang sebenarnya bersumber dari ketidakterbukaan dan komunikasi yang minim. Semenjak Au Pair, aku mulai belajar terbuka dan terbiasa mengungkapkan keinginanku dan meminta pendapat orang yang aku ajak bicara.
Aku sering berkilas balik dan berterima kasih atas pengalaman Au Pairku. Aku menjadi pribadi yang lebih disiplin dan memperhatikan hal-hal kecil belajar dari hostfamku. Ibu hostfamku selalu menyempatkan menulis surat atau menghias rumah saat ada yang ulang tahun, saat aku hendak ujian, dan sebagainya. Bahkan, beliau juga masih mengirimku postcard hingga sekarang. Dari mereka aku juga belajar bagaimana sopan santun di Jerman dipraktikkan. Misalnya, saat makan kami menunggu satu sama lain dan memulai ketika semua berkumpul, dan baru berdiri ketika semua sudah selesai.
Saat bulan puasa, mereka juga sekedar menemaniku untuk makan, meskipun mereka tak makan lagi. Hal-hal kecil semacam itu tak akan pernah aku pelajari jika aku tidak tinggal di keluarga Jerman. Aku juga sangat cepat mengenal tokoh-tokoh kartun anak-anak seperti Pumuckl, Pippi Langstrumpf, atau film-film Jerman seperti Loriot, juga berbagai boardgames yang kami mainkan bersama seperti Tabu, Spiel des Lebens, dan sebagainya. Sayangnya, dulu aku masih belum bisa banyak berdiskusi soal politik, ekonomi ataupun hal-hal lain dengan hostfamku, hal yang cukup aku sesali, meskipun level bahasa Jermanku ketika terbang ke Jerman adalah B1 yang lebih dari cukup untuk syarat Au Pair.
Aku bersyukur dan berterimakasih atas kesempatan Au Pair, yang meskipun tak sesempurna yang aku pikirkan, tetap memberikanku sangat banyak pelajaran berharga yang bermanfaat untuk kehidupan yang aku jalani.

Komentar

Postingan Populer